Manusia diberi amanat oleh Allah untuk membimbing umat agar mengenal dan tidak menyekutukanNya. Maka diturunkanlah panduan berupa Kitabullah (ilmu/ajaran/cahaya) yang diperankan oleh Nabi, Rasul dan Waliyullah sehingga disebut tali Allah. Sekalipun manusia bebas bertindak tapi bila lepas dari tali Allah maka jalan hidupnya akan tersesat. Sebaliknya dengan berpegang erat manusia akan selamat kembali ke asalnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Jumat, 03 April 2020
Selasa, 20 Agustus 2019
Jumat, 30 November 2018
Jumat, 27 Mei 2016
TENTANG ZIARAH WALISONGO
Saya pernah ditanya: “Bib, keistimewaannya ziarah
walisongo apa?”, saya jawab: “Isin (malu, red.)!” Jawaban saya masih dikejar:
“Lho, bukannya istimewanya ada pada berkah (mencari
berkah, red.)”. “Bukan. Terlalu tinggi itu buat saya.” Tandas saya.
Anda lihat, Sunan Ampel misalnya, sudah berapa ratus
orang yang berdzikir di makam beliau tiap hari? Makam Sunan Kalijaga, berapa
ratus orang yang sudah menyebut nama Allah di sana tiap malam? Sunan Muria,
sudah berapa ribu orang yang membaca Quran dan membaca shalawat di sana
(Muria)? Saya sendiri saja masih susah mengajak anak-anak sehabis maghrib untuk
berkumpul dan memperkenalkan ajdad (leluhur), berdoa, berdzikir, dan membaca
Quran. Bagaimana bisa seramai di makam para auliya` Allah Walisongo? Padahal
mereka sudah wafat ratusan tahun yang lalu, dan saya masih hidup. (Baca: Dengan
Shalawat Menjaring Rahmat)
Berziarah, selain melahirkan budaya malu seperti
tadi, seharusnya berfungsi memperkenalkan siapa yang ada di makam tersebut
kepada anak-anak kita. Seharusnya bukan Walisongo saja, tapi perkenalkan juga
siapa Kiai Sentot Prawirodirjo, siapa Kiai Diponegoro, siapa Jenderal Sudirman,
karena kita semakin lupa dengan para pahlawan negeri ini. Lihatlah bendera
kita, merah putih, ia berdiri tegak bukan secara gratis! Ada darah dan nyawa
para pahlawan yang harus dibayar untuk “membeli” bendera itu. Coba kita
kenalkan para pahwalan itu setiap habis maghrib. (Baca: Ulama Sodoqun dan Ulama
Solihun)
Ibarat kita sudah merdeka ini, seperti ada hidangan
di meja di depan kita dan kita tinggal melahapnya saja. Tapi bukannya melahap,
eh malah sibuk ribut sendiri, saling sikut, mau diadu domba. Makam Sunan Ampel
saja, yang sudah wafat ratusan lalu, masih sanggup mempersatukan masyarakat
sekarang yang masih hidup. Pintu makam selalu dibuka, semua orang dapat
menziarahi, apapun warna kulitnya, apapun partainya, dan di kanan-kiri banyak
orang berjualan, pendapatan mereka bertambah, ada pekerjaan yang dapat
menyambung hidup mereka. Muka kita mau ditaruh dimana, wong orang yang sudah
mati saja masih bisa begini, tapi kita yang masih hidup tidak bisa apa-apa?
(RA)
Selasa, 24 Mei 2016
Manusia Mahluk Langit
Manusia Mahluk Langit
Manusia diciptakan dalam rangka menjembatani kekuasaan Tuhan dengan alam ciptaanNya. Manusia diberi pengetahuan yang luas untuk menjadi wali di muka bumi. Ilmu manusia lebih sempurna dibanding golongan malaikat maupun jin. Dengan ilmunya manusia seharusnya mengembangkan sistem yang kuat dalam menjaga keseimbangan atau keutuhan alam dunia. Namun dalam perjalanan hidupnya manusia banyak yang tidak memperdulikan tujuan hidupnya. Keserakahan dan irihati menjadi problem yang membuat manusia jatuh ke lembah kehancuran.Manusia yang sadar akan kekhalifahannya akan berjuang sekuat tenaga agar memperoleh derajat yang paling tinggi. Aturan-aturan yang datang dari Tuhannya akan dijalankan dan segala sesuatu yang dilarang akan ditinggalkannya. Mereka melepaskan egoisnya dan mengembangkan sifat kesyukurannya sehingga apa yang ia perbuat hanyalah pengalihan dari tangan-tangan Tuhan.
Pada akhirnya manusia akan dimintai pertanggungjawabannya selama ia memimpin di muka bumi. Manusia akan di kumpulkan di padang yang luas dengan suasana mencengkam. Seluruh keburukannya akan nampak dan menjadi beban yang sangat menakutkan. Hujan siksaan mengiringi tangis dan jeritan yang dahsyat. Mereka itulah orang-orang yang menjadikan bumi tempat tujuan hidup, takut kehilangan harta dan kesenangan di alam dunia. Dan mereka gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai manusia sehingga akan ditempatkan dalam jurang api neraka.
Orang-orang yang sukses menjalankan tugasnya sebagai wali Allah, mereka menghasilkan hidup yang damai, penuh dengan lingkaran ibadah sehingga alam semesta tunduk kepadanya. Mereka tidak memperdulikan dirinya, segala cacian dan pujian yang menerpa, beban derita dan kesenangan tidak menghalangi rasa syukur atas anugerah Tuhannya. Mereka akan naik setahap demi setahap dari langit yang satu ke langit di atasnya sampai ketingkat makam malakut dan bahkan ilahiyah. Maka sebenarnya manusia itu adalah mahluk langit.
Rabu, 21 Januari 2015
Berfikir bukan berarti melamun.
Berfikir memberi gambaran bagaimana pemecahan masalah yang dihadapi. Orang yang banyak berfikir akan bertambah wawasan dan cara untuk mengatasi problematika yang muncul, baik dari dirinya maupun orang lain. Berfikir jernih akan melatih syaraf-syaraf yang ada di otak bekerja sesuai dengan ketentuan atau qodratnya. Sehingga mereka semakin cerdas dan sehat.=berlanjut=
Berfikir memberi gambaran bagaimana pemecahan masalah yang dihadapi. Orang yang banyak berfikir akan bertambah wawasan dan cara untuk mengatasi problematika yang muncul, baik dari dirinya maupun orang lain. Berfikir jernih akan melatih syaraf-syaraf yang ada di otak bekerja sesuai dengan ketentuan atau qodratnya. Sehingga mereka semakin cerdas dan sehat.=berlanjut=
Langganan:
Postingan (Atom)





